KIsah nyata seorang fotografi terkenal Indonesia

GambarAwalnya Darwis muda adalah seorang pilot. Ia sempat menuntut ilmu di sebuah sekolah tinggi penerbangan di daerah Curug, Tangerang sekitar tahun 1975. Namun, belakangan Darwis merasa tak cocok dengan profesinya sebagai penerbang. Pada tahun 1979, akhirnya ia mengambil sebuah keputusan  berani: banting stir ke dunia fotografi. Padahal, pengetahuan Darwis di bidang fotografi kala itu tak bisa dikatakan memadai. Apalagi latar belakang pendidikan formal pria yang kini berusia 56 tahun tersebut pun tak bersangkut paut dengan bidang fotografi. Saat ditanya bagaimana ia dulu menekuni bidang barunya, Darwis menjawab,” Karena waktu itu orang masihbelum tahu mau belajar (fotografi) kemana, jadi saya belajar sendiri.” Menuntut ilmu secara otodidak ia lakukan dengan banyak membaca buku dan aktif melakukan praktik di lapangan.

 Mengapa memilih berkarier di bidang fotografi? Darwis sendiri tak memiliki jawaban pasti. Yang jelas, berpuluh tahun yang lalu itu ia hanya memikirkan sebuah keahlian yang kira-kira dapat menjadi sumber kehidupannya kelak di masa depan, tanpa perlu kembali ke bangku perkuliahan. “Saya enggak tahu tiba-tiba kepikiran foto. Akhirnya terus saya jalanin foto,” ungkap Darwis. Menurutnya, bidang fotografi di Indonesia pada waktu itu belum terlalu diperhitungkan orang. “Tapi saya berpikir fotografi itu enggak seperti ini nantinya. Makanya saya harus belajar benar,” tambahnya.

Selama kurang lebih empat tahun, Darwis mencoba menekuni fotografi secara mandiri. Sekitar tahun 1983, ia mulai mencari beragam informasi dan mengikuti kursus fotografi di sejumlah negara seperti Jerman dan Swiss.  Untungnya Darwis bukanlah tipe orang yang pelit untuk berbagi ilmu. Seiring dengan pengalaman dan pengetahuannya yang semakin bertambah, sejak tahun 1985 ia mulai giat menjadi pembicara dalam berbagi seminar dan pelatihan terkait kegiatan “menembakkan” kamera. Dari situ, keinginan untuk membuat sebuah lembaga pendidikan fotografi kemudian timbul. Darwis mengungkapkan,” Pernah waktu itu saya berjanji, kalau saya jadi fotografer beneran, saya mau bikin sekolah fotografi yang nonformal, tapi profesional.” Apa yang mendasari lahirnya janji tersebut? “Mungkin karena dasarnya saya senang ngajar ya,” jawab Darwis.

Makna fotografi dalam hidup Darwis

Secara terang Darwis mengatakan bahwa ia menemukan makna kehidupan dalam fotografi. Bahkan bergelut dengan dunia yang dicintainya selama lebih dari 30 tahun terakhir telah membuat Darwis merasa dapat mengalami hidup lebih dari dimensi yang sebenarnya. Ia menjelaskan,“Saya motret (karena) ingin menemukan bahwa sebetulnya dasar fotografi itu apa. Bukan hanya sekadar motret jegrek jadi gambar.” Lebih lanjut penulis buku Kembang SetamanSecret Lighting, dan Terra Incognita itu menguraikan bahwa fotografi telah menuntunnya dalam proses pencarian jati diri hingga akhirnya menemukan makna kehidupan yang sejati.

 Passion hidup Darwis memang tercurah pada bidang fotografi. Hal ini membuatnya tak pernah lelah melakoni profesi yang sama selama berpuluh-puluh tahun. Darwis menerangkan,“Karena saya sudah menemukan (bahwa) begitu saya berbicara foto, saya motret, saya hidup.” Begitu menyatunya Darwis dengan fotografi, ia sampai kesulitan menjawab ketika ditanya pengalaman apa yang paling menarik selama menapaki jenjang kariernya. Bagi Darwis, urusan memotret selalu meninggalkan kesan menarik.

Dedikasi Om Darwis pada bidang yang dicintainya sangat layak dicontoh (sumber: penulis)

Walaupun sudah terjun selama puluhan tahun, dalam beberapa momen Darwis mengaku masih terbebani akan tanggung jawab pekerjaannya. Momen yang bisa membuatnya merasa demikian contohnya ketika ia mesti memotret untuk kepentingan iklan atau mengambil gambar para pejabat. “Untuk saya berat,” kata Darwis. Selain itu, beberapa kali Darwis juga dihinggapi duka terutama jika apa yang ia pikirkan,rencanakan, atau imajinasikan tidak terealisasi dalam foto sebagaimana yang diharapkan. Namun, Darwis segera memberi catatan dengan mengatakan,” Tapi sukanya, karena itu pekerjaan, hobi, hidup, (dan) jiwa saya, senang akhirnya. Apapun bentuknya kalau fotografi itu bawaannya senang.”

Sumber http://sosok.kompasiana.com/2011/02/14/darwis-triadi-kisah-ikon-fotografi-indonesia/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s