Dunia Cahaya Tamara Palupi

“For me, lighting is more than just something I love but it also is my life”

-Tamara Palupi

Perempuan muda itu begitu enerjik. Jemarinya lincah memainkan mouse. Satu-persatu slide bergantian menampilkan ruangan-ruangan dengan pencahayaan yang mengandung kesan magis. Begitu mempesona, begitu artistik. Ia berusaha menjelaskan apa itu Pencahayaan Arsitektural dengan konsep “hijau”. Hari itu, acara “Berbagi Ide Segar” ala Depok Creative (@depokcreative) yang dilaksanakan di Politeknik Media Kreatif menjadi ajang berbagi ilmu perempuan ini. Tema yang dia bawakan tentang “Pencahayaan Arsitektural dengan konsep ‘hijau’”. Ratusan orang datang untuk mendapat ilmu baru. Sebagai pembicara pertama –ada dua pembicara setelahnya, ia membuka mata audiens tentang konsep “hijau”. Selama ini, “hijau” berarti berhubungan dengan polusi, pohon, atau sampah. Padahal ada yang bisa kita gali lebih dalam. Dalam kaitannya dengan dunia arsitektur, konsep “hijau” ini bisa diterjemahkan menjadi soal penghematan energi cahaya yang dipakai.

Misalnya, dahulu kita memakai model “lampu Edison” yang boros energi. “Lampu Edison” ini memiliki filamen-filamen kuning yang berpijar. Walaupun begitu, harus kita akui bahwa penemuan ini memang langkah besar untuk umat manusia. Pada saat ini, penelitian-penelitian telah berhasil dilakukan. Akhirnya, pasar mengeluarkan suatu bentuk model lampu baru yang lebih hemat energi. Di berbagai negara, lampu CFL (Compact Fluorescent Lamp) menjadi lampu yang paling diminati karena hemat energi dan tahan lama. Model lampu ini sekarang sering kita lihat di mana-mana. Bisa jadi rumah kita pun memakai lampu ini yang relatif berwarna lebih putih dibanding model “lampu Edison”.

Selain itu, muncul juga produk lampu LED (Light Emitting Diode). Lampu ini cenderung lebih mahal tetapi sangat awet. Sebagai perbandingan, cahaya 10 watt yang dihasilkan produk LED sebanding dengan cahaya 50 watt yang dihasilkan lampu lainnya. Selain itu, daya tahan LED bisa sampai 25 ribu jam. Sementara lampu lainnya hanya ratusan sampai ribuan jam saja. Dengan kekuatan sorotan cahaya yang lebih dan daya tahan lampu yang kuat, tentu energi yang dipakai lebih sedikit. Pada akhirnya, kita lebih menghemat uang sekaligus menjaga alam. Inilah hakikatnya konsep “hijau” di dunia arsitektur pencahayaan itu.

“Nah, konsep tata cahaya yang mampu sedemikian rupa menghemat energi tetapi juga optimal dalam pencahayaan itulah yang disebut “Pencahayaan Arsitektural dengan konsep ‘hijau’”, ujar perempuan itu.

Mungkin sebagian besar dari kita mengenal “arsitektur”, tetapi tidak tahu-menahu soal “Pencahayaan Arsitektural”. Memang, perempuan ini sendiri mengakui bahwa architectural lighting designer –istilah profesi untuk orang yang menggeluti dunia “Pencahayaan Arsitektural”—hanya diutak-atik segelintir orang di dunia. Dan hebatnya, negeri ini mempunyai salah satu dari yang segelintir itu. Namanya adalah Tamara Palupi (@ikitamara).

Sejak kecil, Tamara dilimpahi oleh kasih sayang keluarga. Ia sangat mencintai Bintoro Dwi Cahyanto, sang ayah, dan Endang Katmiwati, ibunya. Seperti anak-anak pada lazimnya, Tamara kecil sering bermain-main di lapangan luas, berlarian dengan tetangga. Jika malam tiba, ia juga senang melihat bintang-gemintang. Cahaya yang dipancarkan bintang di langit itu membius Tamara kecil, ia terpesona seakan ada ikatan antara dia dan cahaya.

Gadis yang lahir di kota Pati pada tanggal 2 April ini sering dibawakan potongan gambar-gambar bagus dari majalah oleh ayahnya. Tamara kecil begitu berbinar menerima hadiah dari ayahnya tersebut. Matanya tak lekang menatapi gambar interior yang memukau, lukisan-lukisan hebat, dan cerita-cerita tentang musik jazz. “Saya rasa itulah yang menjadi latar belakang mengapa saya menyukai dunia desain dan seni,” Tamara menjelaskan.

Selain itu, kakeknya yang seorang guru juga menumbuhkan karakter ingin tahu. “Kakek saya mengajari saya untuk selalu ingin tahu, mencari jawaban dari sebuah pertanyaan hingga tuntas,” kenang Tamara. Kelak, karakter ini sangat bermanfaat baginya. “Sedangkan ibu, beliau selalu menginspirasi saya untuk hidup mandiri dan terus belajar –bahkan sampai sekarang pun tetap seperti itu.”

Saat ini, sang ibu tengah kuliah S3 di Jepang, mempelajari Kimia Polimer. “Padahal saya saja S2 belum,” kata Tamara sambil tertawa.

Tamara menghabiskan masa kecilnya di Pati. Ia begitu mencintai kota kecilnya tersebut. Namun, tekad itu sudah bulat. Selepas SMA, Tamara hijrah ke Jogja, menekuni jurusan Arsitektur UGM. Rasa cintanya akan dunia desain dan seni berlanjut –kali ini masuk ke ranah yang lebih serius.

Sumber: http://arsitektur.indonesiakreatif.net/index.php/id/ceritasukses/read/dunia-cahaya-tamara-palupi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s